Antara Hisab, Rukyat, dan Bulan Sabit

Antara Hisab, Rukyat, dan Bulan Sabit

HARI ANTARA RIKSA SEDUNIA

  • Selasa, 9 Juli 2013
Pengurus Nahdatul Ulama melakukan peneropongan hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013). Peneropongan tersebut dilakukan untuk mengamati pergerakan bulan yang akan menentukan hari pertama pada bulan suci Ramadhan.


*Muh. Ma’rufin Sudibyo

KOMPAS.com – Dua kata yang kerap muncul tiap kali bulan Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha datang menjelang adalah hisab dan rukyat. Bagi publik, keduanya mungkin dianggap sebagai “biang keladi” utama dalam masalah perbedaan mengawali Ramadhan maupun berhari raya. Sebenarnya, apa sihhisab dan rukyat itu?

Secara harfiah, hisab merupakan perhitungan falak, khususnya terkait elemen-elemen posisi Bulan, baik dalam rupa elemen geometris ataupun fisis. Elemen geometris Bulan berkaitan dengan posisi Bulan di dalam bola langit, baik bola langit ekliptika, ekuatorial maupun horizon.

Dalam khasanah astronomi kontemporer, elemen tersebut dinyatakan sebagai koordinat lintang ekliptika, bujur ekliptika, deklinasi, right ascension ataupun tinggi dan azimuth. Sementara,  elemen fisis terkait dengan sifat-sifat fisis Bulan seperti kecerlangan (magnitudo semu), fase (iluminansi), lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan dan nilai kontras Bulan.

Tinggi dan azimuth menjadi elemen geometris yang paling sering dijumpai, meski bukan yang paling menentukan. Kala kita melayangkan pandangan ke panorama langit dan bumi di sekitar kita, maka di mana pun titik pandang kita di permukaan Bumi, pada galibnya kita sedang memandangi sisi dalam sebuah bola langit.

Ada dua belahan bola langit yang ukurannya sama besar, yakni bola langit atas dan bawah. Batas antara keduanya adalah bidang datar yang berpusat di tempat kita berdiri dan membentang ke segenap penjuru hingga berpotongan dengan bola langit sebagai lingkaran besar. Itulah horizon sejati, atau kaki langit, atau cakrawala.

KOMPAS/PRIYOMBODO Dengan mata telanjang warga ikut serta memantau hilal dari puncak Masjid Al Mabrur, Nambangan, Kenjeran, Surabaya, Senin (29/8/2011). Rukyatul Hilal yang dilakukan di beberapa tempat dilakukan guna untuk menentukan 1 Syawal 1432 H.

Saat kita berdiri di pesisir atau lahan datar nan luas tanpa tutupan pepohonan maupun tonjolan bukit, cakrawala dengan mudah diidentifikasi sebagai bidang tempat bertemunya langit dan laut, atau titik pertemuan langit dan daratan nun jauh mata memandang. Apa yang kita saksikan itu sesungguhnya adalah horizon semu. Sementara, horizon sejati sedikit ada di atasnya.

Horizon semu terjadi akibat Bumi kita memiliki selimut udara (atmosfer) tebal dengan sifat optisnya sendiri, sementara posisi kita berdiri selalu memiliki jarak vertikal tertentu terhadap paras air laut rata-rata.

Bulan senantiasa memiliki tinggi dan azimuth yang nilainya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tinggi Bulan adalah sebuah busur vertikal yang berpangkal di horizon menuju titik zenith (titik puncak bola langit) melintasi Bulan, yang memiliki satuan derajat. Jika Bulan itu tepat berada di horizon, maka tingginya adalah 0 derajat, sebaliknya jika berada di zenith maka tingginya tepat 90 derajat. Azimuth adalah busur mendatar yang ditarik dari arah utara sejati menuju ke timur hingga berujung di titik potong busur tinggi Bulan dengan horizon.

Azimuth setara dengan arah mata angin, namun dinyatakan dalam nilai tertentu yang khas. Misalnya utara, selalu dihargai dengan azimuth 0 atau 360 derajat, sementara timur, selatan dan barat masing-masing berharga 90, 180 dan 270 derajat. Produk dasar hisab pada umumnya adalah data tinggi dan azimuth Bulan serta tinggi dan azimuth Matahari bagi satu titik di Bumi saat Matahari terbenam pasca konjungsi.

Meski dalam kacamata astronomi produk sesungguhnya tak sebatas itu, karena masih terdapat elemen lain yang (sebagian) kurang populer seperti halnya beda tinggi, elongasi, lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan, dan nilai kontras.

Adapun, rukyat dimaknai sebagai observasi Bulan, khususnya saat Matahari terbenam pasca konjungsi. Observasi ini tersebut menyasar ada tidaknya busur sabit Bulan yang teramati di tengah lingkungan langit senja yang masih cemerlang bergelimang cahaya.

Rukyat dilakukan dengan atau tanpa bantuan alat bantu optik seperti teleskop/binokuler ataupun instrumen teodolit yang diberdayakan ulang. Di masa kini, penggunaan alat bantu optik lebih ditekankan, terutama untuk memastikan arah pandang mata benar-benar menyasar Bulan yang sesungguhnya. Sebab, dengan kian sedikitnya ahli falak dan meredupnya pengetahuan publik terkait ilmu terkait, terdapat cukup banyak fenomena alamiah/buatan yang sejatinya bukan hilaal namun disangka sebagai hilal.

Dalam beberapa kasus, benda-benda langit seperti Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter kerap disangka hilal. Demikian pula sumber-sumber cahaya artifisial nan jauh di batas pandangan mata seperti lampu menara, balon udara, lampu pesawat dan lampu kapal/nelayan. Pada giliran selanjutny,a benda-benda langit artifisial tanpa lampu namun meiliki permukaan mengkilap yang sanggup memantulkan cahaya Matahari seperti stasiun antariksa internasional (ISS) dan satelit telekomunikasi Iridium pun berpotensi disangka sebagai hilal.

Mengingat keduanya memiliki kemampuan memproduksi kilatan (flare) yang sangat terang bahkan hingga melebihi terangnya Bulan sabit meski dalam sekejap.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA Anggota Lajnah Falakiiyah PBNU tengah meneropong matahari untuk melihat Rukyah Hilal di Gedung Season City, Tambora, Jakarta Barat, Senin (8/7/2013). Hilal tersebut untuk menentukan awal puasa bagi umat Islam.

Dua sisi mata uang

Dalam persepsi publik masa kini, hisab dan rukyat kerap diposisikan berseberangan dan seakan saling berlawanan. Padahal, sesungguhnya dalam perspektif astronomi, keduanya ibarat dua sisi dari sekeping mata uang logam sehingga tak bisa dicerai-beraikan.

Rukyat menghasilkan data-data temporal (terkait waktu) kala Bulan berstatus hilal. Data-data tersebut lantas dapat dianalisis oleh hisab sehingga menghasilkan batas minimum matematis mencakup elemen geometris dan fisis Bulan saat berstatus hilal.

Batas minimum itu, di kemudian hari, menjadi persamaan prediktif yang membatasi Bulan saat berstatus sebagai hilal terhadap status-status lainnya. Persamaan tersebut dikenal dengan nama kriteria visibilitas atau lebih populer sebagai kriteria saja.

Pada gilirannya, kriteria visibilitas menjadi faktor pembatas nan tegas terhadap hasil-hasil rukyat yang diselenggarakan di kemudian hari, sehingga memastikan apakah produk rukyat itu bersifat sahih (valid) ataukah tidak. Bila sahih, maka produk rukyat merupakan data hasil pengukuran yang lebih teliti sehingga akurasi kriteria kian lama kian meningkat. Hal semacam ini merupakan langkah baku dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya ilmu alam, di mana sebuah model matematis (teori) selalu dibandingkan terus-menerus dengan observasi-observasi berikutnya guna memperbaikinya dan sebaliknya prosedur obvservasi pun menjadi kian baik di bawah topangan model matematis termutakhir.

Kesatuan rukyat dan hisab yang tak terpisahkan telah cukup dipahami cendekiawan falak generasi terdahulu sebagai bagian pencarian panjang akan definisi hilaal. Secara harfiah hilaal memang bermakna sabit Bulan yang tertipis (termuda) pasca konjungsi. Namun, makna tersebut perlu diturunkan lebih lanjut sehingga mencakup aspek-aspek elemen geometris dan/atau elemen fisis Bulan.

Dalam era klasik yang berlangsung sejak awal mula peradaban Islam hingga sekitar lima abad silam, cendekiawan falak memusatkan perhatian merumuskan definisi hilaal dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama mengaitkan hilal dengan elongasi dan/atau beda tinggi Bulan-Matahari, seperti dilakukan al-Khwarizmi, ibn Maimun dan ibn Qurra’. Pada umumnya disimpulkan bahwa Bulan menempati status hilal jika elongasinya minimal 5 derajat dan beda tingginya minimal 13 derajat.

Sementara, kelompok kedua menekankan hilal sebagai fungsi dari Lag Bulan, seperti dilakukan oleh as-Sufi, al-Battani, ibn Sina, ath-Thusi, al-Farghani dan al-Kashani. Mereka umumnya menyimpulkan Bulan berstatus hilaal terjadi Lag Bulan minimal 48 menit, yang setara dengan beda tinggi Bulan-Matahari minimal 12 derajat.

Dapat dilihat bahwa pada saat itu, meski terdapat dua kelompok utama, mereka sama-sama menghasilkan kesimpulan yang hampir sama. Yakni Bulan menempati status hilal saat beda tingginya melebihi 12 atau 13 derajat.

Dibandingkan dengan masa kini, batasan ini terlihat ‘terlalu tinggi’. Namun, harus dicatat bahwa rukyat berbasis teleskop belum terdapat di era klasik, sehingga hanya sepenuhnya mengandalkan ketajaman mata tanpa alat bantu apapun.

* Muh Ma’rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen

 sumber : http://ramadhan.kompas.com/read/2013/07/09/0848198/Antara.Hisab.Rukyat.dan.Bulan.Sabit.

Sampingan | Posted on by | 1 Komentar

DATA SEMENTARA PPDB 2013

DAFTAR SEMENTARA PENERIMAAN PESESTA DIDIK BARU SMA NEGERI 1 PAITON

 

DATA DIPEROLEH HINGGA HARI SELASA, 3 JULI 2013

NO No. Pdf NAMA CALON SISWA ASAL SEKOLAH
1 001 CICI SRI WULANDARI SMPN 2 PAITON
2 002 USNUL HOTIMAH SMPN 2 PAITON
3 003 CHANDRA BASSAR RAMADHAN SMPN 2 PAKUNIRAN
4 004 SOLEH HUDIN SMPN 1 BANYUGLUGUR
5 005 AHMAD FAUZI SMP ISTIQLAL
6 006 MOHAMMAD ABDUS SOFI MTSN PAJARAKAN
7 007 HADI WIYANTO SMPN 1 PAITON
8 008 MUHAMMAD RIZAL EFENDI SMPN 2 PAKUNIRAN
9 009 RENI ANISA PUTRI AGUSTIN MTSN PAITON
10 010 INDANA ZULFA MTSN PAITON
11 011 VIDI KRESNA SATRIO SMPN 24 TANGERANG
12 012 FATHOR RAHMAN SMP ISLAM PAITON
13 013 JOKO PRAYOGI ALWI SMPN 2 PAKUNIRAN
14 014 UMAR NUR HAMDANI SMP ISLAM PAITON
15 015 AGAM RIFANSYAH SMPN 1 PAITON
16 016 IRVAN MUJAHIDIN SMPN 1 PAITON
17 017 DIAN SYAFIRA SMPN 2 PAITON
18 018 SIGIT IFAN FAHROZI SMPN 1 PAITON
19 019 DINA MAYANGSARI SMPN 2 PAITON
20 020 CINDY F.A SMPN 2 PAITON
21 022 SINTA SMPN 2 BANYUGLUGUR
22 023 MAHBUB JUNAIDI SMPN 1 JATIBANTENG
23 024 RIFKI HIKMATUL RAMADHANI SMPN 2 KRAKSAAN
24 025 INDAH KIKI DWIYULIA SMPN 2 PAKUNIRAN
25 026 INDAH RESVIANTI MTS NURUL ISLAM
26 027 ELI HIKMATUL MAULIDIAH SMPN 1 PAITON
27 028 IVON AGUSTINO SMPN 1 PAITON
28 034 SAIULLAH SMPN 1 PAITON
29 035 RONALDO AMIR H SMPN 1 PAITON
30 036 SOFYAN HERMANTO SMPN 1 PAITON
31 037 DINAR SUPRABA TARANGGANA AJI SMPN 1 PAITON
32 038 YUNANTA BIMANSYAH P.E.W SMPN 1 PAITON
33 039 EKKY AJI LUCKY S SMPN 1 PAITON
34 040 RYAN ANDRIANA SMPN 1 PAITON
35 041 GIVONDA EKA P.J SMPN 1 PAITON
36 042 SUDIANTORO SMPN 1 PAITON
37 043 DELANDA NICO Z.P. SMPN 1 PAITON
38 044 DINATUS SOLEHAH SMPN 1 PAITON
39 045 NUROTUL FITRIYAH SMPN 1 PAITON
40 046 AWAL PUTERI NABILATUS S SMPN 1 PAITON
41 047 ADELA SAFITRI SMPN 1 PAITON
42 048 KHOLILAH FEBRIYANTI SMPN 1 PAITON
43 049 NOR RIZKA N.F. SMPN 1 PAITON
44 050 HUSNUL KHOTIMAH SMPN 1 PAITON
45 052 ACHMAT NUR QOMARUZZAMAN SMPN 1 PAITON
46 053 AJI SUKMA WARDANA SMPN 1 PAITON
47 055 RAHMADANI ANNUR RIZKI SMPN 1 PAITON
48 054 RISKA YUDIA BINANGUN A SMPN 1 PAITON
49 051 YUNI DIAH AGUSTINE SMPN 1 PAITON
50 056 EKO MUHAMMAD ARIF B SMPN 1 BESUK
51 057 UMAR MUTHOLIBUL KAMAL SMPN 2 PAKUNIRAN
52 058 SITI KHOTIJAH SMPN 1 PAITON
53 059 EKLESIUS MISERICORDIAS D SMP K SANTO PAULUS

JUMLAH PESERTA PENDAFTAR SEJUMLAH 211 SISWA
DATA LAIN HASIL PENJARINGAN LIHAT DISINI
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kesiswaan, PPDB DAN MOS 2013 | Tag , , | Meninggalkan komentar

STRUKTUR KELOMPOK MATA PELAJARAN WAJIB DALAM KURIKULUM SMA/MA

MATA PELAJARAN ALOKASI WAKTU BELAJAR PER MINGGU
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 2 2
3. Bahasa Indonesia 4 4 4
4. Matematika 4 4 4
5. Sejarah Indonesia 2 2 2
6. Bahasa Inggris 2 2 2
Kelompok B (Wajib)
7. Seni Budaya (termasuk muatan lokal)* 2 2 2
8. Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan
Kesehatan (termasuk muatan lokal)
3 3 3
9. Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
Jumlah Jam Pelajaran
Kelompok A dan B per minggu
24 24 24
Kelompok C (Peminatan)
Mata Pelajaran Peminatan
Akademik (SMA/MA)
18 20 20
Jumlah Jam Pelajaran Yang harus
Ditempuh per minggu
42 44 44

 

SEKOLAH SMA SASARAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI JAWA TIMUR

Dipublikasi di Kurikulum, KURIKULUM 2013, News | Meninggalkan komentar

BEKAL PRESTASI

Bekal Prestasi

Nilai Tertinggi Un Jatim 2013 – resepnya rajin, patuh, puasa dan sholat

Gresik (beritajatim.com) – Tiga siswa SMA Negeri 1 Manyar, Gresik kali ini menorehkan prestasinya, yakni meraih nilai ujian nasional (Unas) tertinggi kedua di bidang Bahasa se-Jawa Timur. Ketiga siswa yang meraih nilai Unas tertinggi Bahasa adalah Abdullah Maftukh Al-Ikhsani, serta dua perempuan Sae Elinda dan Eka Mufidah Nurjannah.

Keberhasilan SMA Negeri 1 Manyar meraih nilai Unas tertinggi Bahasa bukan pertama kalinya. Tahun lalu, sekolah yang berada di kompleks Perumahan Pongangan Indah (PPI) Gresik, itu juga berhasil meraih Unas tertinggi di bidang yang sama.

Lalu apa resep ketiga siswa SMA Negeri 1 Manyar yang berhasil meraih Unas tertinggi bidang Bahasa tahun 2013. Salah satu siswa Abdullah Maftukh menuturkan, dirinya tidak menyangka bisa meraih Unas tertinggi kedua se-Jawa Timur dengan nilai 56,10.

“Saya tidak menyangka, padahal resepnya hanya belajar rutin. Tidak lupa juga mengikuti program sekolah, mulai istiqhosah, sholat malam hingga membaca Alquran setiap pagi menjelang masuk sekolah,” tuturnya kepada wartawan, Jumat (24/05/2013).

Selain menjalankan kegiatan di atas, lanjut Abdullah Maftukh Al-Ikhsani, dirinya juga tidak lupa menjalankan Puasa Nabi Dawud. Hal ini dia lakukan sejak Kelas XI. Sebab, dia membaca di kitab, kalau Puasa Dawud itu permintaan mudah dikabulkan.

“Saya sering Puasa Dawud. Sampai-sampai badan saya tidak bisa gemuk,” tandasnya.

Nilai Unas Bahasa Abdullah Maftukh Al-Ikhsan hampir sempurna dengan rata-rata 9,3. Pelajaran Bahasa Indonesia mendapat nilai 9,4. Bahasa Inggris 9,2, Matematika 9,4. Sastra 9,12, Antropologi 8,9, dan Bahasa Jepang 9,5. Putra pertama pasangan M Zainul Fuad-Mahmudah asal Jalan Sunan Giri Gresik itu hanya kalah 0,10 dari Nuril Ahadla Hasana dari SMA Negeri Genteng Banyuwangi.

Sedangkan dua teman sekelasnya, Sae Elinda menempati peringkat empat dengan nilai 55,55 dan Eka Mufidah meraih nilai 55,50 berada diperingkat lima se-Jawa Timur.

Hal senada juga dilakukan Sae Elinda dan Eka Mufidah Nurjannah. Keduanya juga aktif mengikuti kegiatan sekolah dari istiqhosah, membaca Alquran hingga sholat malam. Bahkan, keduanya juga menambah Sholat Dhuha di pagi hari.

“Saya tidak setiap hari belajar. Kalau capek ya saya istirahat. Sebab, kalau capek dipaksakan belajar, juga tidak mendapat apa-apa,” paparnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Manyar Adik Mulyo mengatakan, keberhasilan anak didiknya meraih Unas Bahasa tertinggi kedua se-Jawa Timur tidak lepas dari memberikan motivasi kepada guru mata pelajarannya.

“Ada insentif bagi guru yang di kelasnya mendapat prestasi tingkat Jawa Timur,” ungkapnya.

Alasan adanya insentif kata Adik Mulyo, supaya ada semangat yang mengajar di kelas. Kendati jumlahnya tidak besar.

“Nominalnya tidak besar memang. Tapi kami berharap insentif bisa membuat guru bersemangat mengajar,” tukasnya.

sumber : http://www.beritajatim.com/

Dipublikasi di Kesiswaan, Kurikulum, News | Meninggalkan komentar

SELAMAT MENGIKUTI UN 2013

SELAMAT DAN SUKSES

MENEMPUH

UJIAN NASIONAL 2013

uan13

Rajin Membaca Rajim Belajar Rajin Sekolah

Rajin Mencoba Kaya Pengalaman

Rajin Kerjasama Banyak Teman

Anda Rajin Anda yang Displin

Anda yang Amanah

Anda  bakal Fatonah

Anda Siap menjadi Pewaris Negeri ini !

Dipublikasi di Kesiswaan, Kurikulum, News, PPD dan MOS 2008, ujian nasional | Tag | Meninggalkan komentar