2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 3,400 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 57 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

| Tinggalkan komentar

HARI ANTARIKSA SEDUNIA

Happy New Years - http://www.newyearstext.com

BUMI KITA DAN DUNIA ANTARIKSA – 3-10 OKTOBER 2013google menyambut hari angkasa
DUNIAKITAdari pakistan

The United Nations General Assembly in 1999, declared 4 to 10 October “World Space Week” to celebrate the contribution of space science and technology to the betterment of the human condition. WSW is celebrated in more than 100 countries around the world with the objective to educate people about the benefits that they receive from space, excite young people about science and gather public support for space programs. < read more >

DUNIAKITAlapan

| Tinggalkan komentar

SELAMAT DATANG SISWA BARU 2013

BUMI KITA DAN DUNIA ANTARIKSA – 3-10 OKTOBER 2013google menyambut hari angkasa
DUNIAKITAdari pakistan

The United Nations General Assembly in 1999, declared 4 to 10 October “World Space Week” to celebrate the contribution of space science and technology to the betterment of the human condition. WSW is celebrated in more than 100 countries around the world with the objective to educate people about the benefits that they receive from space, excite young people about science and gather public support for space programs. < read more >

DUNIAKITAlapan

LEBEREN

leberen2

coachingcalon ilmuwan

selamat belajar di smanpai

selamat belajar di smanpai

KALENDER PENDIDIKAN

| Tinggalkan komentar

Antara Hisab, Rukyat, dan Bulan Sabit

Antara Hisab, Rukyat, dan Bulan Sabit

HARI ANTARA RIKSA SEDUNIA

  • Selasa, 9 Juli 2013
Pengurus Nahdatul Ulama melakukan peneropongan hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013). Peneropongan tersebut dilakukan untuk mengamati pergerakan bulan yang akan menentukan hari pertama pada bulan suci Ramadhan.


*Muh. Ma’rufin Sudibyo

KOMPAS.com – Dua kata yang kerap muncul tiap kali bulan Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha datang menjelang adalah hisab dan rukyat. Bagi publik, keduanya mungkin dianggap sebagai “biang keladi” utama dalam masalah perbedaan mengawali Ramadhan maupun berhari raya. Sebenarnya, apa sihhisab dan rukyat itu?

Secara harfiah, hisab merupakan perhitungan falak, khususnya terkait elemen-elemen posisi Bulan, baik dalam rupa elemen geometris ataupun fisis. Elemen geometris Bulan berkaitan dengan posisi Bulan di dalam bola langit, baik bola langit ekliptika, ekuatorial maupun horizon.

Dalam khasanah astronomi kontemporer, elemen tersebut dinyatakan sebagai koordinat lintang ekliptika, bujur ekliptika, deklinasi, right ascension ataupun tinggi dan azimuth. Sementara,  elemen fisis terkait dengan sifat-sifat fisis Bulan seperti kecerlangan (magnitudo semu), fase (iluminansi), lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan dan nilai kontras Bulan.

Tinggi dan azimuth menjadi elemen geometris yang paling sering dijumpai, meski bukan yang paling menentukan. Kala kita melayangkan pandangan ke panorama langit dan bumi di sekitar kita, maka di mana pun titik pandang kita di permukaan Bumi, pada galibnya kita sedang memandangi sisi dalam sebuah bola langit.

Ada dua belahan bola langit yang ukurannya sama besar, yakni bola langit atas dan bawah. Batas antara keduanya adalah bidang datar yang berpusat di tempat kita berdiri dan membentang ke segenap penjuru hingga berpotongan dengan bola langit sebagai lingkaran besar. Itulah horizon sejati, atau kaki langit, atau cakrawala.

KOMPAS/PRIYOMBODO Dengan mata telanjang warga ikut serta memantau hilal dari puncak Masjid Al Mabrur, Nambangan, Kenjeran, Surabaya, Senin (29/8/2011). Rukyatul Hilal yang dilakukan di beberapa tempat dilakukan guna untuk menentukan 1 Syawal 1432 H.

Saat kita berdiri di pesisir atau lahan datar nan luas tanpa tutupan pepohonan maupun tonjolan bukit, cakrawala dengan mudah diidentifikasi sebagai bidang tempat bertemunya langit dan laut, atau titik pertemuan langit dan daratan nun jauh mata memandang. Apa yang kita saksikan itu sesungguhnya adalah horizon semu. Sementara, horizon sejati sedikit ada di atasnya.

Horizon semu terjadi akibat Bumi kita memiliki selimut udara (atmosfer) tebal dengan sifat optisnya sendiri, sementara posisi kita berdiri selalu memiliki jarak vertikal tertentu terhadap paras air laut rata-rata.

Bulan senantiasa memiliki tinggi dan azimuth yang nilainya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tinggi Bulan adalah sebuah busur vertikal yang berpangkal di horizon menuju titik zenith (titik puncak bola langit) melintasi Bulan, yang memiliki satuan derajat. Jika Bulan itu tepat berada di horizon, maka tingginya adalah 0 derajat, sebaliknya jika berada di zenith maka tingginya tepat 90 derajat. Azimuth adalah busur mendatar yang ditarik dari arah utara sejati menuju ke timur hingga berujung di titik potong busur tinggi Bulan dengan horizon.

Azimuth setara dengan arah mata angin, namun dinyatakan dalam nilai tertentu yang khas. Misalnya utara, selalu dihargai dengan azimuth 0 atau 360 derajat, sementara timur, selatan dan barat masing-masing berharga 90, 180 dan 270 derajat. Produk dasar hisab pada umumnya adalah data tinggi dan azimuth Bulan serta tinggi dan azimuth Matahari bagi satu titik di Bumi saat Matahari terbenam pasca konjungsi.

Meski dalam kacamata astronomi produk sesungguhnya tak sebatas itu, karena masih terdapat elemen lain yang (sebagian) kurang populer seperti halnya beda tinggi, elongasi, lebar sabit Bulan, panjang busur sabit Bulan, dan nilai kontras.

Adapun, rukyat dimaknai sebagai observasi Bulan, khususnya saat Matahari terbenam pasca konjungsi. Observasi ini tersebut menyasar ada tidaknya busur sabit Bulan yang teramati di tengah lingkungan langit senja yang masih cemerlang bergelimang cahaya.

Rukyat dilakukan dengan atau tanpa bantuan alat bantu optik seperti teleskop/binokuler ataupun instrumen teodolit yang diberdayakan ulang. Di masa kini, penggunaan alat bantu optik lebih ditekankan, terutama untuk memastikan arah pandang mata benar-benar menyasar Bulan yang sesungguhnya. Sebab, dengan kian sedikitnya ahli falak dan meredupnya pengetahuan publik terkait ilmu terkait, terdapat cukup banyak fenomena alamiah/buatan yang sejatinya bukan hilaal namun disangka sebagai hilal.

Dalam beberapa kasus, benda-benda langit seperti Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter kerap disangka hilal. Demikian pula sumber-sumber cahaya artifisial nan jauh di batas pandangan mata seperti lampu menara, balon udara, lampu pesawat dan lampu kapal/nelayan. Pada giliran selanjutny,a benda-benda langit artifisial tanpa lampu namun meiliki permukaan mengkilap yang sanggup memantulkan cahaya Matahari seperti stasiun antariksa internasional (ISS) dan satelit telekomunikasi Iridium pun berpotensi disangka sebagai hilal.

Mengingat keduanya memiliki kemampuan memproduksi kilatan (flare) yang sangat terang bahkan hingga melebihi terangnya Bulan sabit meski dalam sekejap.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA Anggota Lajnah Falakiiyah PBNU tengah meneropong matahari untuk melihat Rukyah Hilal di Gedung Season City, Tambora, Jakarta Barat, Senin (8/7/2013). Hilal tersebut untuk menentukan awal puasa bagi umat Islam.

Dua sisi mata uang

Dalam persepsi publik masa kini, hisab dan rukyat kerap diposisikan berseberangan dan seakan saling berlawanan. Padahal, sesungguhnya dalam perspektif astronomi, keduanya ibarat dua sisi dari sekeping mata uang logam sehingga tak bisa dicerai-beraikan.

Rukyat menghasilkan data-data temporal (terkait waktu) kala Bulan berstatus hilal. Data-data tersebut lantas dapat dianalisis oleh hisab sehingga menghasilkan batas minimum matematis mencakup elemen geometris dan fisis Bulan saat berstatus hilal.

Batas minimum itu, di kemudian hari, menjadi persamaan prediktif yang membatasi Bulan saat berstatus sebagai hilal terhadap status-status lainnya. Persamaan tersebut dikenal dengan nama kriteria visibilitas atau lebih populer sebagai kriteria saja.

Pada gilirannya, kriteria visibilitas menjadi faktor pembatas nan tegas terhadap hasil-hasil rukyat yang diselenggarakan di kemudian hari, sehingga memastikan apakah produk rukyat itu bersifat sahih (valid) ataukah tidak. Bila sahih, maka produk rukyat merupakan data hasil pengukuran yang lebih teliti sehingga akurasi kriteria kian lama kian meningkat. Hal semacam ini merupakan langkah baku dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya ilmu alam, di mana sebuah model matematis (teori) selalu dibandingkan terus-menerus dengan observasi-observasi berikutnya guna memperbaikinya dan sebaliknya prosedur obvservasi pun menjadi kian baik di bawah topangan model matematis termutakhir.

Kesatuan rukyat dan hisab yang tak terpisahkan telah cukup dipahami cendekiawan falak generasi terdahulu sebagai bagian pencarian panjang akan definisi hilaal. Secara harfiah hilaal memang bermakna sabit Bulan yang tertipis (termuda) pasca konjungsi. Namun, makna tersebut perlu diturunkan lebih lanjut sehingga mencakup aspek-aspek elemen geometris dan/atau elemen fisis Bulan.

Dalam era klasik yang berlangsung sejak awal mula peradaban Islam hingga sekitar lima abad silam, cendekiawan falak memusatkan perhatian merumuskan definisi hilaal dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama mengaitkan hilal dengan elongasi dan/atau beda tinggi Bulan-Matahari, seperti dilakukan al-Khwarizmi, ibn Maimun dan ibn Qurra’. Pada umumnya disimpulkan bahwa Bulan menempati status hilal jika elongasinya minimal 5 derajat dan beda tingginya minimal 13 derajat.

Sementara, kelompok kedua menekankan hilal sebagai fungsi dari Lag Bulan, seperti dilakukan oleh as-Sufi, al-Battani, ibn Sina, ath-Thusi, al-Farghani dan al-Kashani. Mereka umumnya menyimpulkan Bulan berstatus hilaal terjadi Lag Bulan minimal 48 menit, yang setara dengan beda tinggi Bulan-Matahari minimal 12 derajat.

Dapat dilihat bahwa pada saat itu, meski terdapat dua kelompok utama, mereka sama-sama menghasilkan kesimpulan yang hampir sama. Yakni Bulan menempati status hilal saat beda tingginya melebihi 12 atau 13 derajat.

Dibandingkan dengan masa kini, batasan ini terlihat ‘terlalu tinggi’. Namun, harus dicatat bahwa rukyat berbasis teleskop belum terdapat di era klasik, sehingga hanya sepenuhnya mengandalkan ketajaman mata tanpa alat bantu apapun.

* Muh Ma’rufin Sudibyo, Koordinator Riset Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia & Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen

 sumber : http://ramadhan.kompas.com/read/2013/07/09/0848198/Antara.Hisab.Rukyat.dan.Bulan.Sabit.

Sampingan | Posted on by | 1 Komentar

DATA SEMENTARA PPDB 2013

DAFTAR SEMENTARA PENERIMAAN PESESTA DIDIK BARU SMA NEGERI 1 PAITON

 

DATA DIPEROLEH HINGGA HARI SELASA, 3 JULI 2013

NO No. Pdf NAMA CALON SISWA ASAL SEKOLAH
1 001 CICI SRI WULANDARI SMPN 2 PAITON
2 002 USNUL HOTIMAH SMPN 2 PAITON
3 003 CHANDRA BASSAR RAMADHAN SMPN 2 PAKUNIRAN
4 004 SOLEH HUDIN SMPN 1 BANYUGLUGUR
5 005 AHMAD FAUZI SMP ISTIQLAL
6 006 MOHAMMAD ABDUS SOFI MTSN PAJARAKAN
7 007 HADI WIYANTO SMPN 1 PAITON
8 008 MUHAMMAD RIZAL EFENDI SMPN 2 PAKUNIRAN
9 009 RENI ANISA PUTRI AGUSTIN MTSN PAITON
10 010 INDANA ZULFA MTSN PAITON
11 011 VIDI KRESNA SATRIO SMPN 24 TANGERANG
12 012 FATHOR RAHMAN SMP ISLAM PAITON
13 013 JOKO PRAYOGI ALWI SMPN 2 PAKUNIRAN
14 014 UMAR NUR HAMDANI SMP ISLAM PAITON
15 015 AGAM RIFANSYAH SMPN 1 PAITON
16 016 IRVAN MUJAHIDIN SMPN 1 PAITON
17 017 DIAN SYAFIRA SMPN 2 PAITON
18 018 SIGIT IFAN FAHROZI SMPN 1 PAITON
19 019 DINA MAYANGSARI SMPN 2 PAITON
20 020 CINDY F.A SMPN 2 PAITON
21 022 SINTA SMPN 2 BANYUGLUGUR
22 023 MAHBUB JUNAIDI SMPN 1 JATIBANTENG
23 024 RIFKI HIKMATUL RAMADHANI SMPN 2 KRAKSAAN
24 025 INDAH KIKI DWIYULIA SMPN 2 PAKUNIRAN
25 026 INDAH RESVIANTI MTS NURUL ISLAM
26 027 ELI HIKMATUL MAULIDIAH SMPN 1 PAITON
27 028 IVON AGUSTINO SMPN 1 PAITON
28 034 SAIULLAH SMPN 1 PAITON
29 035 RONALDO AMIR H SMPN 1 PAITON
30 036 SOFYAN HERMANTO SMPN 1 PAITON
31 037 DINAR SUPRABA TARANGGANA AJI SMPN 1 PAITON
32 038 YUNANTA BIMANSYAH P.E.W SMPN 1 PAITON
33 039 EKKY AJI LUCKY S SMPN 1 PAITON
34 040 RYAN ANDRIANA SMPN 1 PAITON
35 041 GIVONDA EKA P.J SMPN 1 PAITON
36 042 SUDIANTORO SMPN 1 PAITON
37 043 DELANDA NICO Z.P. SMPN 1 PAITON
38 044 DINATUS SOLEHAH SMPN 1 PAITON
39 045 NUROTUL FITRIYAH SMPN 1 PAITON
40 046 AWAL PUTERI NABILATUS S SMPN 1 PAITON
41 047 ADELA SAFITRI SMPN 1 PAITON
42 048 KHOLILAH FEBRIYANTI SMPN 1 PAITON
43 049 NOR RIZKA N.F. SMPN 1 PAITON
44 050 HUSNUL KHOTIMAH SMPN 1 PAITON
45 052 ACHMAT NUR QOMARUZZAMAN SMPN 1 PAITON
46 053 AJI SUKMA WARDANA SMPN 1 PAITON
47 055 RAHMADANI ANNUR RIZKI SMPN 1 PAITON
48 054 RISKA YUDIA BINANGUN A SMPN 1 PAITON
49 051 YUNI DIAH AGUSTINE SMPN 1 PAITON
50 056 EKO MUHAMMAD ARIF B SMPN 1 BESUK
51 057 UMAR MUTHOLIBUL KAMAL SMPN 2 PAKUNIRAN
52 058 SITI KHOTIJAH SMPN 1 PAITON
53 059 EKLESIUS MISERICORDIAS D SMP K SANTO PAULUS

JUMLAH PESERTA PENDAFTAR SEJUMLAH 211 SISWA
DATA LAIN HASIL PENJARINGAN LIHAT DISINI
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Kesiswaan, PPDB DAN MOS 2013 | Tag , , | Tinggalkan komentar